Smartfren

Selamat Datang di dunia smartfren, era baru dan terdepan dalam penyediaan layanan telekomunikasi di Indonesia

Aplikasi GPS Android

Sistem navigasi sangat membantu Anda, manfaatkan kecanggihan teknologi masa kini

Akses LCD Dengan Mikrokontroler

LCD karakter sangat berguna sebagai penampil (display). Kita dapat menampilkan apapun sesuai yang kita inginkan. Dengan memanfaatkan mikrokontroler AVR, kita dapat mengakses LCD.

Film Indonesia

Film Indonesia telah kembali menampilkan film yang berkualitas. Era film bertema setan/hantu telah usai. Saksikan di bioskop-bioskop di kota Anda.

Sekedar berbagai pengalaman saya mengenai Mini SD Memory. Waktu itu beli Mini SD ga kebaca di card reader.

Tuesday, November 30, 2010

IC Timer 555

IC timer 555 memberi solusi praktis dan relatif murah untuk aplikasi elektronik yang berkenaan dengan pewaktuan (timing). Beberapa contoh aplikasi yang memanfaatkan IC 555 adalah rangkaian pewaktu monostable dan astable, generator sinyal kotak, transducer, dan lain sebagainya.

Rangkaian Monostable
IC ini bekerja dengan memanfaatkan prinsip pengisian dan pengosongan dari kapasitor melalui resistor.

Rangkaian di atas adalah rangkaian pewaktu monostable, prinsip rangkaian di atas adalah menghasilkan pulsa tunggal dengan lama tertentu pada keluaran pin 3, jika pin 2 di picu.

Pada keadaan tanpa input, keluaran pin 3 adalah 0 (ground atau normally low). Transistor Q1 yang ada di dalam IC ini selalu ON dan mencegah kapasitor eksternal C dari proses pengisisian (charging). Ketika ada sinyal trigger dari 1 ke 0 (VCC to GND) yang diumpankan ke pin 2 dan lebih kecil dari 1/3 VCC, maka serta merta komparator B men-set keluaran flip-flop. Ini pada gilirannya memicu transistor Q1 menjadi OFF. Jika transistor Q1 OFF akan membuka jalan bagi resistor eksternal R untuk mulai mengisi kapasitor C (charging).

Pada saat yang sama output dari pin 3 menjadi high (VCC), dan terus high sampai suatu saat tertentu yang diinginkan. Sebut saja lamanya adalah t detik, yaitu waktu yang diperlukan untuk mengisi kapasitor C mencapai tegangan 2/3 VCC. Tegangan C ini disambungkan ke pin 6 yang tidak lain merupakan input positif comp A. Maka jika tegangan 2/3 VCC ini tercapai, komparator A akan men-reset flip-flop dan serta merta transistor internal Q1 menjadi ON kembali. Pada saat yang sama keluaran pin 3 dari IC 555 tersebut kembali menjadi 0 (GND).

Rangkaian Astable


Sedikit berdeda dengan rangkaian monostable, rangkaian astable dibuat dengan mengubah susunan resitor dan kapasitor luar pada IC 555 seperti gambar berikut. Ada dua buah resistor Ra dan Rb serta satu kapasitor eksternal C yang diperlukan.

Prinsipnya rangkaian astable dibuat agar memicu dirinya sendiri berulang-ulang sehingga rangkaian ini dapat menghasilkan sinyal osilasi pada keluarannya. Pada saat power supply rangkaian ini di hidupkan, kapasitor C mulai terisi melalui resistor Ra dan Rb sampai mencapai tegangan 2/3 VCC. Pada saat tegangan ini tercapai, dapat dimengerti komparator A dari IC 555 mulai bekerja mereset flip-flop dan seterusnya membuat transistor Q1 ON. Ketika transisor ON, resitor Rb seolah dihubung singkat ke ground sehingga kapasitor C membuang muatannya (discharging) melalui resistor Rb. Pada saat ini keluaran pin 3 menjadi 0 (GND).

Ketika discharging, tegangan pada pin 2 terus turun sampai mencapai 1/3 VCC. Ketika tegangan ini tercapai, bisa dipahami giliran komparator B yang bekerja dan kembali memicu transistor Q1 menjadi OFF. Ini menyebabkan keluaran pin 3 kembali menjadi high (VCC). Demikian seterusnya berulang-ulang sehingga terbentuk sinyal osilasi pada keluaran pin3. Terlihat di sini sinyal pemicu (trigger) kedua komparator tersebut bekerja bergantian pada tegangan antara 1/3 VCC dan 2/3 VCC.

Inilah batasan untuk mengetahui lebar pulsa dan periode osilasi yang dihasilkan. Misal diasumsikan t1 adalah waktu proses pengisian kapasitor yang di isi melalui resistor Ra dan Rb dari 1/3 VCC sampai 2/3 VCC. Diasumsikan juga t2 adalah waktu discharging kapasitor melalui resistor Rb dari tegangan 2/3 VCC menjadi 1/3 VCC. Dengan perhitungan eksponensial dengan batasan 1/3 VCC dan 2/3 VCC, maka dapat diperoleh :

t1 = ln(2) (Ra+Rb)C = 0.693 (Ra+Rb)C
dan
t2 = ln(2) RbC = 0.693 RbC

Periode osilator adalah dapat diketahui dengan menghitung T = t1 + t2. Persentasi duty cycle dari sinyal osilasi yang dihasilkan dihitung dari rumus D = t1/T. Jadi jika diinginkan duty cycle osilator sebesar (mendekati) 50%, maka dapat digunakan resistor Ra yang relatif jauh lebih kecil dari resistor Rb.

Iklan Sahabat

Photobucket